-->

MGID

Iklan

PENDIDIKAN

Pantaskah Sumba Akan Siap Dengan Kebijakan Merdeka Belajar !

Redaksi
Sabtu, 19 Juni 2021, 09.48.00 WIB Last Updated 2021-06-19T02:49:48Z
masukkan script iklan disini



Oleh: Fian Tamo, (Mahasiswa STKIP Weetebula)

Pada 3 November 2020 Kemendikbud meluncurkan kebijakan merdeka belajar episode keenam dan pencapaian Indeks Kinerja Utama (IKU), bagi 75 PTN (BOPTN). Pendekatan kelembagaan sekolah Perguruan Tinggi Conpetitive Fun dan Matching Fun bagi Sekolah Perguruan Tinggi Negeri maupun Sekolah Perguruan Tinggi Swasta.


Peningkatan kualitas SDM, peningkatan kualitas pembelajaran dan kemahasiswaan, sehingga tercipta 50 ribu mahasiswa berwirausaha, 400 ribu mahasiswa kampus merdeka, 660 Program studi terkait Inovasi pembelajaran (Kompas.Com).


Kebijakan merdeka belajar-kampus merdeka merupakan peluang bagi mahasiswa untuk beroperasi diluar kampus. Apakah mahasiswa di Sumba sudah siap ? 


Beberapa kajian hasil observasi penulis menemukan beberapa hal yang menjadi penyebab dan akibat merdeka belajar-kampus merdeka yakni (Hp android, Satelit Internat, pulsa paketan, sarana dan prasarana, komparatif dan kompetitif) yang tidak memadai. 


Dengan kata lain, program kebijakan merdeka belajar-kampus merdeka, mahasiswa mempunyai peran atau kemampuan merubah situasi dan berinovasi, kreatif sebagai generasi bangsa dan Negeri menuju ke daerah 3 T(Terdepan, Terluar dan Terbelakang) yang maju dan sejahtera sehingga dari kajian itu sumba belum siap dari segi internet.


Terbungkamnya Kebebasan Berpikir Di Kampus

Tahun 1957-1966 mahasiswa-mahasiswi Indonesia berhasil menumbangkan sebuah “Rezim” yaitu rezim kebohongan dan kesewenang-sewenangan dari pemerintah(Soe Hok Gie; 123).


Perjuangan mashasiswa merupakan asas yang tercantum dalam ikrar “Sumpah Mahasiswa”, Mahasiswa mempunyai peran penting sebagai pengontrol atau mitra kritik pemerintah sehingga Proses belajar mengajar di Sekolah Perguruan Tinggi. Bisa menjadi salah satu wadah yang melahirkan mahasiswa yang optimis dan kritis terhadap problema yang terjadi di daerah tersebut, sehingga tidak memperhatikan kualitas dan kapasitas mahasiswa. 


Persoalan tersebut bisa menimbulkan miskomunikasi atau harmoni belajar. Pendidik yang ada dalam Institusi Sekolah Perguruan Tinggi harus memberikan kebebasan kepada mahasiswa untuk menyampaikan gagasan, kritikan, dan saran lewat momentum itu. Mereka berlatih menganalisis apa yang salah dan yang perlu ditingkatkan sehingga kata ”Merdeka belajar” terimplementasi.


Dengan merdeka belajar mahasiswa mempunyai semangat dan niat belajar meningkatkan kualitas dan kapasitas, lewat kegiatan-kegiatan internal maupun eksternal. Ruang belajar tertentu merupakan kesempatan mengeksperikan atau melatih kemampuan sehingga menjadi kekuatan atau dasar ketika terjun ke dunia kerja.


Proses belajar yang efektif dan efisien yakni memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menentukan dan memilih sesuatu yang mereka anggap mudah atau baru, sehingga dosen hadir hanya sebagai fasilitator (Pemandu Proses), contohnya; Dosen mendampingi mahasiswa cara membuat media pembelajaran, metode, strategi, peluang unrtuk berkarir dengan mudah dan sederhana. Bisa juga sebagai inspirator (Memberikan inspirasi) contohnya; Selalu diawali dengan kata-kata bijak atau motivasi belajar dan perjuangan seseorang menjadi sukses sehingga mahasiswa semakin tekun belajar.

Apatisme Mahasiswa

Mahasiswa sebagai penggerak yang disebut Agent Of Change (Agen Perubahan), karena dipundak mereka ada kesuksesan, harapan bangsa dan Negeri Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bagaimana mahasiswa disebut sebagai penggerak atau motor penggerak….?


Mahasiswa bukan belajar, IPKnya tinggi dan Penelitian lalu wisuda !


Hasil identifikasi lewat observasi bahwa mahasiswa hanya berpikir datang kuliah, belajar, pulang Kos, refresing dan urus pribadi masing-masing, lalu menerima materi dari dosen. Sedangkan problema yang hiruk-pikuk tidak membuat mereka pusing karena sudah nyaman dengan kebiasaan di lingkungan tempat tinggal maupun dalam Institusi Sekolah Perguruan Tinggi.


Bagaiman bisa seperti itu…? Atau diajarkan untuk seperti itu…! “Tanyalah pada rumput yang bergoyang”. Terjadinya hal demikian mengakibatkan mahas.
Komentar

Tampilkan

Terkini