Iklan

PENDIDIKAN

Hardiknas, Sebagai Momen Refleksi Pendidikan di Masa Pandemic dan Ketimpangan Akses di Desa-Kota

Redaksi
Minggu, 02 Mei 2021, Minggu, Mei 02, 2021 WIB Last Updated 2021-05-02T07:18:20Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini


NTT - Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) sebagaimana telah ditetapkan pada tanggal 2 Mei 2021. Perayaan Hari Pendidikan Nasional selalu diadakan dengan upacara semua tenaga pendidik dan siswa sebagai sebuah peristiwa sejarah panting yang selalu jadi pionir kemajuan bangsa.

Terlepas dari itu, terutama yang menjadi tenaga pendidik, guru ataupun pelajar, siswa maupun mahasiswa perlu tahu sejarah Hari Pendidikan Nasional atau Hardiknas.

Sejarah Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas)

Perayaan Hari Pendidikan Nasional pada tanggal 2 Mei sendiri mengacu pada hari lahir Ki Hajar Dewantara yang menjadi pahlawan nasional karena jasanya di bidang pendidikan. Sepak terjang beliaulah yang menjadi jasa terbesar, sehingga kini semua lapisan masyarakat bisa merasakan pendidikan secara terbuka di seluruh Nusantara.

Awalnya, Ki Hajar Dewantara menentang sistem pendidikan pada zaman penjajahan Belanda. Sistem pendidikan tersebut hanya mengijinkan anak-anak keturunan Belanda atau anak-anak orang kaya saja yang bisa masuk dan belajar di sekolah. Sementara anak pribumi yang kelas ekonominya rendah dianggap tidak pantas, sehingga terjadi ketimpangan yang besar.

Atas aksi protes dan pendapatnya ini, beliau kemudian diasingkan ke Belanda. Ki Hajar Dewantara kemudian mendirikan National Onderwijs Institut Taman Siswa, yang kemudian dikenal dengan nama Taman Siswa.

Lembaga inilah yang jadi cikal bakal Sekolah Rakyat (SR) yang kemudian mampu membawa pendidikan ke kaum menengah kebawah, yang tadinya tak bisa menikmati sekolah. Meski memang perjuangannya tidak hanya berhenti di sana saja, namun momen ini menjadi poin penting kemudian nama Ki Hajar Dewantara masuk dalam daftar nama Pahlawan Nasional.

*Makna dan Nilai Pendikan, Masa Pandemi Hingga Ketimpangan Akses di Desa-Kota*

Perjalanan sejarah sebagai sebuah spririt dalam mambakar semangat siswa maupun guru merupakan sebuah keharusan bagi selurah kalangan masyarakat untuk turut memajukan pendidikan di Indonesia.

Hingga hari ini, pendidikan di pelosok-pelosok khususnya Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bagi segelintir orang masih beraganggapan bahwa tujuan pendidikan berorientasi pada kapitalisme, walaupun sesuai data Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia tahun 2020 angka jumlah peserta didik dari jenjang pendidikan terendah hingga strata 1 dan seterusnya mengelami peningkatan.

Pendidikan hari ini ditengah-tengah keterbukaan segala aspek kehidupan, merupakan sedikit dari arti kemerdekaan, lantas, pendidikan bukan sekedar simbolisasi bagi anak bangsa untuk mendapatkan ijazah tanpa modal dasar bagi masa depannya.

Modal dasar pendidikan saat ini dapat diukur dengan karakter pelajar, guru, maupun kepedulian lembaga pemerintah dalam memajukan segala akses pendidikan, baik itu sarana prasarana maupun upah/balas jasa bagi tenaga pendidik.

Terlepas dari kemajuan pendidikan di kota, tak sedikit kesenjangan selalu menjadi alibi bagi pertumbuhan pendidikan di desa-desa di Provinsi NTT, pasalnya, akses pendidikan di desa masih dianggap setara dengan pandangan orang tua untuk anaknya pergi kuli, menjaga aset keluarga, bertani, hingga berdagang tanpa menyekolahkan anaknya.

Pada tataran ini, terbukti akan minimnya edukasi baik dari masyarakat sendiri maupun pemerintah, kesenjangan-kesenjangan yang terjadi di desa-desa pada masa pandemi covid-19 merupakan sebuah catatan merah dan mencederai makna pendidikan yang sesungguhnya.

Sebagai pioner bangsa dan negara, pandemi covid-19 mampu mencederai arus pembelajaran masyarakat kecil, kalangan ekonomi menengah ke bawah sangat khawatir akan perkembangan anaknya, sebagaimana diketahui bahwasannya perkembangan teknologi dan akses pendidikan lainnya belum terasa di daerah-daerah pedalaman.

Tulisan ini, tidak menjadi stimulus bagi saya dan pembaca untuk berkata "ya" pada keadaan yang sangat memghambat, dalam hal ini Covid-19, akses pendidikan baik itu berupa sarana-prasarana, balas jaga tenaga pendidik di desa-kota, hingga pemahaman masyarakat akan pendidikan yang belum sempurna.

Di hari pendidikan nasional, merupakan sebuah peristiwa untuk merefleksi perkembangan pendidikan untuk meminimalisir kesenjangan-kesenjangan yang terjadi, edukasi-edukasi dan promosi pendidikan sangat perlu di daerah pedalaman, terlepas dari edukasi yang berorientasi pada siswa, orang tua juga adalah patokan utama perkembangan pengetahuan anak di luar sekolah.

Selain populasi pendidikan yang meningkat secara kuantitas, kualitas pendidikan anak bangsa pun dipertanyakan, sebab NTT sebagai penyumbang angka pengangguran, dan kemiskinan terbesar di level nasional, (Sumber: _BPS Indonesia 2020_) dengan kurangnya kualitas dan daya saing untuk berkembang di tengah keterbukaan pasar bebas, baik itu pasar barang dan pasar modal, seharusnya semua lembaga pemerintah, elemen masyarakat, organisasi-organisasi kemudaan turut memberikan dorongan dan motivasi moral untuk memajukan pendidikan secara ekslusif.

Penulis: Defri N. Sae
Editor: Redaksi
Komentar

Tampilkan

Terkini