Iklan

PENDIDIKAN

Sejumlah Sawah Disumba Tengah Terserang Hama Belalang

Redaksi
Rabu, 28 April 2021, Rabu, April 28, 2021 WIB Last Updated 2021-04-28T16:24:22Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini


WAIBAKUL - Sejumlah sawah di serang hama belalang hingga membuat masyarakat menjadi panik akibat hama belalang sudah menyebar disebagian besar wilayah Sumba Tengah, khususnya warga di lima desa ini merasa kuatir akan hasil panen tahun ini, yakni Desa Umbu Langang, Desa Umbu Pabal, Desa Umbu Pabal Selatan, Desa Umbu Mamijuk, dan Desa Umbu Jodu, Kecamatan Umbu Ratu Nggay Barat, Kabupaten Sumba Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Kepada Media ini, Sekretaris Desa (Sekdes) Umbu Jodu, Ringko U. P Lelung mengatakan bahwa kejadian hama belalang kumbara sangat merisaukan masyarakat karena hama belalang sudah menyebar disebagian besar wilayah Kabupaten Sumba Tengah.

"Masyarakat sangat-sangat panik karena hama belalang sudah menyerang lahan pertanian padi sawah, dimana padi-padi tersebut baru sekitar 25% yang menguning dan selebihnya masih dalam proses pembuahan," kata Sekdes, Senin (26/04/2021).

Lebih lanjut, Sekdes mengatakan hal tersebut yang membuat masyarakat risau dan panik karena apabila hama belalang tidak bisa diatasi maka akan terjadi gagal panen yang konsekuensinya akan terjadi kelaparan. Namun upaya pencegahan hama belalang ini sudah dilakukan oleh pemerintah kabupaten.

"Terkait upaya pencegahan, pemerintah kabupaten Sumba Tengah sudah melakukan pencegahan mulai dari awal munculnya hama belalang bulan lalu di Tana Banas sampai sekarang pemerintah kabupaten Sumba Tengah tetap melakukan upaya pencegahan dengan cara penyemprotan dengan melibatkan seluruh unsur yang ada tetapi upaya tersebut hampir tidak membuahkan hasil karena hama belalang semakin hari semakin tambah banyak dan penyebarannya sudah semakin meluas di empat kecamatan," katanya lagi.

Lanjut Sekdes Ringko, selaku pemerintah desa yang menjalankan roda pemerintahan di desa serba dilema dalam menjalan program yang ada di desa, baik itu program dari pusat, daerah maupun program di desa itu sendiri yang harus melibatkan masyarakat banyak.

"Terlebih khusus kami di Desa Umbu Jodu sedang berjalan program redistribusi tanah/sertifikat tanah dengan keadaan terpaksa kami membuat surat penundaan sementara kepada Badan Pertanahan Kabupaten Sumba Tengah. Saat ini juga ada program dari pusat terkait pendataan IDM berbasis SDGs, program ini menjadi tantangan yang sangat berat bagi kami sebagai pemerintah desa, apakah bisa berhasil atau tidak, karena program ini sudah harus selesai per 31 Mei 2021, kanapa saya bilang sangat berat karena program ini juga harus melibatkan masyarakat," pungkas Ringko.

Ringko juga mengatakan bahwa Sumba Tengah diserang hama belalang tentunya upaya masyarakat tidak terlepas dari siap siaga setiap hari di lahan persawahan.

"Sedangkan kita tahu bersama saat ini daerah kita dilanda bencana hama belalang kumbara, sudah tentunya masyarakat lebih memilih menyelamatkan hasil jerih payah mereka untuk selalu siap siaga tiap hari d lahan sawah masing-masing yang notabenenya hasil pertanian merupakan satu-satunya sumber penghasilan untuk melangsungkan kehidupan mereka," kata Ringko.

Ia berharap, agar hama belalang ini segera berlalu dari bumi Marapu ini.

"Kita hanya bisa berdoa pada Tuhan agar bencana ini bisa cepat berlalu sehingga kita sebagai umatnya bisa beraktivitas seperti biasanya dan pelaksanaan roda pemerintahan baik dari pusat, daerah, bahkan di desa bisa berjalan normal kembali," harapnya.

Hal yang sama juga disampaikan salah satu warga, Rinto Bora Lali, bahwa sebagai petani sangat merasa kuatir dan risau dengan adanya hama belalang yang membuat para petani merasa gagal panen, bahkan sudah ada beberapa warga yang sudah panen, sementara padinya baru menguning sudah panen karena merasa takut penyerangan hama belalang kumbara ini.

"Setiap hari kami petani selalu bersiap siaga di sawah masing-masing untuk menjaga belalang. Saya sangat kuatir hama belalang kumbara ini setiap hari menyerang terus di lima desa ini," pungkas Rinto.


Jurnalis: Ferdi Ghoghi
Editor: Red
Komentar

Tampilkan

Terkini