-->

MGID

Iklan

PENDIDIKAN

Ketua Bidang Or GMKI Tambolaka Sebut Pelopor Tidak Ada Bukti Nyata

Redaksi
Minggu, 24 Januari 2021, 07.48.00 WIB Last Updated 2021-01-24T00:48:25Z
masukkan script iklan disini


TAMBOLAKA - Ketua Bidang Organisasi GMKI Cabang Tambolaka sebut lima pelopor pembangunan desa menjemput tujuh jembatan emas belum ada bukti nyata dalam Desa.

Bupati Sumba Barat Daya, Kornelius Kodi Mete mengangkat 865 Sarjana sebagai Pelopor Pembangunan Tujuh Jembatan Emas. Pengangkatan ini berdasarkan Peraturan Bupati Nomor 25 Tahun 2020.

Pengangkatan sarjana pelopor pembangunan tujuh jembatan emas ini dilakukan 22 Juni 2020 di Aula kantor Bupati SBD.

Pengangkatan Sarjana Pelopor Pembangunan ini merupakan perpanjangan tangan Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya agar tercapainya visi dan misi bupati, yakni menjemput tujuh jembatan emas.

Para sarjana ini sebagai pelopor pembangunan untuk mengawal Program 7 Jembatan emas, yakni Desa Bercahaya, Desa Berkecukupan pangan, Desa Berair, Desa Aman dan Tenteram, Desa Cerdas dan Pintar, Desa Parawisata.

Sarjana pelopor yang ditempatkan di 11 Kecamatan serta di 173 Desa. Masing-masing desa ditempati 5 Orang petugas pelopor yang berakhir Tugas 31 Desember 2020 dan akan di perpanjang di Tahun 2021.

Hal ini mendapatkan respon dari Ketua Bidang Organisasi (Kabid Or) Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Tambolaka Masa Bakti 2019-2021, Ariyanto Krisrian Tena.

Menurut Yanto Tena, dengan adanya 5 pelopor desa sebagai perpanjangan tangan Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya dalam menjalankan 7 program utama memang sudah bagus namun lebih bagus lagi kalau ditiadakan apabila, dalam kinerja pelopor desa masih sama dengan tahun kemarin, pasalnya di satu tahun masa bakti tidak mempunyai bukti nyata dalam desa sebab menurut pantauannya di lapangan sangat nihil, ujar Aryanto.

"Jika dilihat dari segi fungsi dari lima sarjana desa memang sangat mendukung majunya sumba barat daya kedepan. Namun apalah daya sampai saat ini tidak ada bukti dalam desa", ungkap Yanto kepada awak media pada Minggu (24/01/2021).

Lebih lanjut, apakah lima sarjana pelopor tidak mengetahui fungsinya, atau tidak mau melakukan fungsinya, sehingga dalam satu tahun tidak ada bukti nyata dalam desa, ujarnya.

Sebagai Aktivis muda SBD, Yanto berharap agar setiap pelopor yang di tugaskan dalam desa adalah pelopor yang betul-betul mampu membawa perubahan sesuai tugas dan fungsinya baik itu ekonomi, pendidikan dan budaya. ujarnya.

Lebih lanjut, kemana sumba barat daya kedepan jika hanya menempatkan pelopor pembangunan desa sebagai simbol semata, semoga kedepan mendapatkan pethatian yang lebih serius lagi dari PEMDA SBD, ujarnya.

Jurnalis: Ferdi ghoghi
Editor: Redaksi
Komentar

Tampilkan

Terkini