-->

MGID

Iklan

PENDIDIKAN

Tradisi Pinang Perempuan Dalam Pernikahan Adat Sumba

Redaksi
Kamis, 10 Desember 2020, 23.15.00 WIB Last Updated 2020-12-10T16:16:31Z
masukkan script iklan disini

Tradisi Pernikahan Adat Sumba,(Foto: Portaltujuh.net/Yanto)

TAMBOLAKA (SUMBA) - Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) merupakan salah satu kabupaten di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Sumba Barat Daya ini memiliki tradisi perkawinan yang unik dan ciri khasnya tersendiri.

Dalam tradisi perkawinan, Sumba Barat Daya memiliki sejumlah syarat yang harus dipenuhi oleh calon pengantin laki-laki dan perempuan.

Perempuan yang sudah siap berumah tangga selain matang secara biologis, harus mempunyai ketermpilan khusus khas Sumba, seperti menenun kain atau sarung, pandai membuat tempat siri pinang, pandai menari, kerja kebun, sopan dan selalu berbakti kepada orang tuanya.

Pada zaman dahulu perempuan yang siap dipinang atau atau dilamar, biasa menggunakan mamoli sebagai lambang kedewasaan. Demikian halnya dengan laki-laki, selain matang secara biologis, ia juga harus mempunyai keterampilan-keterampilan khusus.
Hal ini akan berpengaruh pada hubungan baik pihak laki-laki dan pihak perempuan, selain itu juga dalam tatacara upacara adat perkawinan dalam pembelisan untuk meminang perempuan, diperlukan mamoli mas sebagai pengganti air susu ibu dan sebagai penghargaan jeripayah orang tua dalam membesarkan anaknya.

Pada hari ini Kamis, (10/12/2020) seorang laki-laki asal Poma, Kecamatan Kota Tambolaka pinang seorang perempuan asal Tenateke, Kecamatan Wewewa Selatan, Sumba Barat Daya. Acara ini di sebut kettena Katonga dalam bahasa wewewa yang artinya ikat hubungan, karena pada awalnya sudah melewati acara tunda binna yang artinya ketuk pintu atau buka surat awal di mana pihak keluarga laki-laki dan pihak keluarga perempuan pertama kali bertemu untuk menyepakati tahap dua dan tahap tiga. Dimana untuk meminang perempuan sumba harus melalui tiga tahap, yaitu tahap pertama buka surat, tahap kedua ikat hubungan, dan tahap ke tiga acara pindah. Diamana acara pindah ini, perempuan sudah sepenuhnya menjadi keluarga pihak laki-laki dan mengikuti suku laki-laki.

Juru Bicara (Jubir) dari pihak laki-laki, Dominikus L. Bili kepada awak media portaltujuh.net mengatakan,"kehadiran pihak keluarga laki-laki hari ini di rumah keluarga perempuan untuk melakukan kettena katonga (ikat hubungan), dimana laki-laki dan perempuan akan direstui kedua belapihak.

"ya beberapa waktu lalu kami sudah melalui tahap satu, saat itu kami buka surat (tuwa winni pare winni watara atau tunda binna) sehingga hari ini kami datang lagi untuk kettena katonga (ikat hubungan)", katanya

Namun sebelum melakukan kettena katonga (ikat hubungan), ternyata masih ada tahap pertama yang harus dilalui. Untuk pembelisan perempuan ada tiga tahapnya, yaitu tahap pertama buka surat (tuwa winni pare winni watara atau tunda binna), tahap kedua ikat hubungan (kettena katonga), dan yang terakhir dikki umma (pinda rumah).

"untuk tahap dikki umma (pindah rumah) nanti akan kami lakukan lagi sebagaimana yang sudah kami sepakati bersama tadi dan tentunya nanti perempuan akan sepenuhnya jadi bagian dari keluarga kami dan masuk ikut suku kami,"jelasnya.

Jurnalis: Yanto
Editor: Redaksi
Komentar

Tampilkan

Terkini