Iklan

PENDIDIKAN

Siapa Teman Anda Yang Sebenarnya !

Redaksi
Jumat, 11 Desember 2020, Jumat, Desember 11, 2020 WIB Last Updated 2020-12-11T13:22:58Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini



OPINI - Ketika usaha bisnis kamu sedang setabil dengan keadaan ekonomi yang naik draktis, beserta rumah yang mewah, dan dialam gerasi terdapat ada mobil mewah. Memdadak bayak teman-teman bahkan orang yang tidak dikenal yang ingin menenuimu.

Teman-teman dan orang lain menyapa kamu dengan berbagai sebutan, Bos, Juragan, Abang saya, bahkan dianggap saudara saya. Dengan sopan santun yang baik, bagaikan seoalah dimana kamu berada disitula tempat tinggalmu.

Namun ketika kamu sedang dalam keadaan terpuruk atau sedang dibawah orang-orang disekitar kita yang tadinya teman, bahkan sanak saudara mulai menghilang atau menghindar kerena mungkin ketakutan kalau kita akan menjadi beban bagi mereka,bahkan mungkin mereka akan berpikir akan takut kalau kita minjam atau berhutang.

Kamu juga akan tidak menjadi seorang yang disegani lagi atau menjadi orang penting dalam sebuah acara bahkan tidak akan ada lagi undang untuk sebuah acara, karena mungkin kamu sudah dianggap gagal.

Saya pernah gagal di posisi yang begitu kelam, jatuh ke lubang gagal yang sangat dalam. Ijazah sarjana tertahan karena tidak punya biaya, jadi tidak bisa melamar kerja atau melanjutkan kuliah. Selain itu orang tua juga dalam kondisi drop. Hutang di mana-mana.

Yang saya lakukan pada masa-masa kritis dulu adalah mimpi dan semangat untuk hidup. Mengapa ini penting? Karena dalam kesulitan, banyak orang memikirkan bagaimana agar bisa cepat keluar dari masalah yang dialaminya. Sementara berpikir dalam situasi kritis. Memecahkan masalah dan ingin menyelesaikan masalah, yang muncul adalah jalan pintas. Mulai dari prostitusi, narkoba, pengajuan dan lainnya.

Dalam sujud-sujud panjang, sebagai hamba, aku meminta dengan Tuhan. Meminta apapun yang saya inginkan. Kemudian bangkit dan percaya bahwa masalah saya akan selesai. Bagaimana caranya? Ya terserah Tuhan. Penyebab Dia lah yang mengatur segala-galanya. Memang, saya terus beraktifitas, berusaha mencari jalan keluar. Saya melakukan hampir semuanya, bahkan pada hal-hal yang sebenarnya saya tahu itu akan membantu sama sekali lagi. Bertemu dengan banyak orang di berbagai acara. Membangun jaringan, mencari peluang. Tapi hal-hal ini memang hanya sebagai pengisi perjalanan. Sebab yang terpenting adalah impian dan semangat hidup.

Namun jika kamu sudah berada di posisi yang cukup nyaman, lebih baik dari teman-teman yang lain, menurut saya kamu perlu memberi manfaat semaksimal mungkin. Setelah kebutuhan keluarga tercukupi, harus sedekah dan berikan utangan kepada teman-teman yang membutuhkan.

Sedekah dalam pemahaman saya sebagai orang awam bukan sebagai metode transaksi materi dengan Tuhan. Tidak bisa kita sedekah 1 juta misalnya, kemudian beraharap dilipat gandakan menjadi 10 kali lipat. Memang ada beberapa hadits dan ringkasan yang membahas bab sedekah ini, dan sangat menggiurkan. Agar bahan sedekah ini menjadi andalan salah seorang ustad untuk berdakwah ke pelosok daerah. Bahkan yang sedang kesulitan, juga diajak sedekah. Disuruh jual-beli aset yang ada untuk sedekah demi mendapat 10 kali lipat.

Alasan menjanjikan Tuhan untuk membalas dan melipat gandakan sedekah yang kita salurkan tidak tertuang dalam kontrak tertulis atau memiliki jangka waktu tertentu. Balasan Tuhan bisa langsung dan singkat, bisa meningkat-tahun, atau bahkan bisa di akhirat. Untuk itu jangan jual asetmu untuk bersedekah, bersedekahlah hanya jika kamu sudah memenuhi kebutuhan keluarga.

Jika bukan karena harapan dilipat gandakan, lalu Mengapa kita perlu bersedekah saat sedang jaya-jayanya? Karena roda kehidupan ini berputar. Hari ini jaya, besok atau lusa bisa saja ada di bawah lagi. Dan saat berada di bawah, apakah kita tidak malu meminta-minta kepada Tuhan sementara saat jaya malah meminta anjuran-anjuranNya? Apakah doa kita sama, saat terpuruk dan berada di bawah, kita kerap berdoa dan berandai-andai, jika saya kaya pasti saya sumbang untuk si A, bersedekah dan sebagainya. Jadi tak ada alasan untuk tidak kita lakukan.

Begitu juga dengan alasan Kita perlu memberi utangan terhadap teman-teman yang membutuhkan. Karena roda kehidupan ini berputar dan dapat dipahami. Kalau bukan kamu yang memberi utangan, lalu siapa yang mau membantu teman-temanmu? Selain itu, beberapa tahun ke depan tidak mungkin orang-orang yang berhutang kepadamu itu akan lebih sukses dan kamu akan perlu bantuan darinya.

Intinya sih bagi saya adalah memberi Manfaat dan membuat pondasi yang nyaman, agar saat kita jatuh, masih ada orang yang mau menolong atau minimal ikut mendoakan. Yang merepotkan jika ada orang kaya raya, tidak mau pinjamin uang, pelit dan tidak bersedekah. Itu jika dia jatuh miskin, akan membuat beberapa orang menjadi bahagia dan tertawa-tawa.

Editor: Redaksi

Komentar

Tampilkan

Terkini