Iklan

PENDIDIKAN

Aktivis: Pilkada Serentak Mencium Aroma Golput

Redaksi
Kamis, 19 November 2020, Kamis, November 19, 2020 WIB Last Updated 2020-11-19T07:39:45Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini



BOGOR - Pilkada di tengah pandemi seakan menjadi persoalan yang hangat diperbincangkan oleh warganet. Salahsatu nya Irfan Kamaludin seorang aktivis lulusan ilmu politik Institut Ilmu Sosial dan Politik Jakarta. Kamis (19/11/2020)

“Pengguna media sosial memiliki pengaruh besar dalam pemilihan umum. Banyaknya contoh yang tersandung kasus ujaran kebencian, UU ITE, setidaknya akan menumbuhkan kesadaran bagi pengguna media sosial. pentingnya berfikir terlebih dahulu sebelum bertindak di media sosial.” 

Irfan pun menjelaskan, “media sosial hanya berfungsi sebagai alat eksistensi diri, kini fungsi tersebut menjalar untuk mempengaruhi iklim politik suatu negara. pernyataan ini dikemukakan oleh peneliti ilmu komunikasi Natalie Stroud, dalam penelitiannya yang dilakukan di Univeristy of Texas at Austin.
 
Bagaimana saat pandemi virus covid 19 yang tengah melanda semua negara termasuk Indonesia. jadi penggunaan media sosial merupakan cara ampuh agar tetap saling berinteraksi satu dengan lainnya. berdasarkan data Yougov yang di kutip facebook for business penggunaan sosial media naik hingga 38% sementara itu layanan video streaming  juga meningkat 35% salah satunya karena tuntutan untuk lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah, guna menekan penularan covid 19. Sehingga pilkada serentak 2020 menciptakan trend yang meningkat karena indikator warganet yang semakin sering melihat aktifitas media sosialnya.”

Dia pun berpendapat pasangan calon harus melihat peluang dukungan tersebut, karena masyarakat pengguna internet atau netizen sudah lebih cerdas bahkan kritis menyampaikan komentar di media sosial. Di lain sisi alih alih memberi dukungan terhadap pilkada serentak, justru pesan pesan ketidakpercayaan masyarakat terhadap keputusan pilkada yang tetap di selenggarakan di tengah covid 19 kritik semacam ini pun viral di konten pilkada.


“Kondisi covid 19 sangat berat menimpa masyarakat. Ketika pilkada hanya mewakili kepentingan segelintir orang maka golput jadi alternatif. Sangat memungkinkan saat dimana semua orang untuk di anjurkan diam di rumah saja, tidak berada di kerumunan, tidak ingin terpapar virus covid 19 apapun itu, warga masyarakat akan mengutamakan kesehatan dan keselamatan. kemungkinan masyarakat golput (golongan putih) akan bermunculan di tiap tiap daerah. Sehingga dalam situasi pandemi menjadi golput boleh jadi adalah pilihan yang paling rasional mengingat kesehatan dan keselamatan publik masih terancam.” Tuturnya.

Jurnalis: M.Rei
Editor: Redaksi
Komentar

Tampilkan

Terkini